Headlines News :
Home » » Titus Pekei, Penggagas Pengusulan Noken Papua hingga Diakui UNESCO

Titus Pekei, Penggagas Pengusulan Noken Papua hingga Diakui UNESCO

Written By ipmapa malang on Sunday, March 2, 2014 | 9:08 PM

Penggagas Noken Papua, Titus Pekei,
 Oleh: Alfred Pekei

Keluar-Masuk Pedalaman, Hanya Ketemu Tiga Perajin

Masyarakat Papua dan Papua Barat patut berbangga karena produk budaya mereka, noken, baru saja diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia. Semua itu berkat perjuangan Titus Pekei yang tidak kenal lelah.
 
 


Malang, OPM News: Dengan langkah cepat, Titus Pekei berjalan menuju kantor layanan humas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Jakarta. Sepatu hingga celana bagian bawahnya tampak basah. ’’Maaf terlambat. Angkutan umum yang saya naiki terjebak banjir di beberapa titik,’’katanya 

Sejurus kemudian, Titus mengeluarkan tiga noken (tas adat) Papua dan Papua Barat yang dibawa dari kampung halamannya. Salah satunya berbentuk spesial. Yakni, noken anggrek atau dikenal sebagai noken emas. Sesuai dengan sebutannya, noken itu terbuat dari bunga anggrek toya berwarna kuning atau cokelat.

Gagasan mendaftarkan noken ke UNESCO (United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization) muncul pada 2008. Pemantiknya, Titus merasa iri kepada keris dan batik yang mendapat pengakuan lebih dahulu. Padahal, pikir dia, Papua dan Papua Barat punya segudang warisan budaya yang pantas mendapat pengakuan dunia.

Titus lantas berdiskusi dengan sejawatnya, Yulianus Keayo, staf di Kemendikbud. Setelah berdiskusi panjang, akhirnya mereka bersepakat membawa noken untuk diajukan sebagai warisan budaya tidak benda kepada UNESCO. Titus lalu mendaftarkannya ke Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar) yang sekarang berubah menjadi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf). Menbudpar saat itu, Jero Wacik, langsung menyetujui.

Menurut Titus, noken memiliki syarat-syarat untuk diakui UNESCO. Tas adat itu tergolong khas, unik, orisinal, dan tidak tergantikan. Selain itu, noken memiliki banyak kandungan nilai positif. ’’Misalnya, untuk membawa bahan makanan warga,’’ ujar pria kelahiran Deiyai, Papua, 19 September 1975 itu.

Setelah mendapat persetujuan Kemenbudpar, Titus bergerak. Dia mengawali dengan melakukan riset noken di kampung halaman pada Februari 2011. Dia dibantu sejumlah anggota tim dari Kemenbudpar. Titus sempat mengelus dada karena melihat begitu banyak noken imitasi yang dijual bebas di Jayapura. Noken imitasi dibuat dari benang nilon buatan pabrik. ’’Noken-noken imitasi itu dijual ibu-ibu di kios-kios atau trotoar,’’ katanya.

Noken imitasi itu dijual Rp55 ribu hingga Rp200 ribu per buah, bergantung ukurannya. Sementara itu, harga noken asli bisa mencapai Rp500 ribu hingga Rp1 juta per buah. Harga noken asli memang mahal karena butuh proses lama untuk membuatnya. Noken itu dibuat dari rajutan benang serat kayu. Bahan terbaik adalah kayu melinjo (gnetum gnemon). ’’Kalau di Jawa, daun dan buah melinjo disayur,’’ katanya.

Titus dan tim baru bisa menemukan para perajin noken asli ketika masuk ke pedalaman Danau Sentani. Mulai mengumpulkan serat kayu, memintalnya menjadi benang, hingga merajutnya menjadi noken.

’’Para perajin noken mulai berkurang. Yang tua banyak yang sudah tiada. Yang muda jarang mau meneruskan kerja mamanya,’’ ujar lulusan Universitas Atmajaya Jogjakarta itu.

Sekarang ini, perempuan yang bisa membuat noken rata-rata berumur lebih dari 50 tahun. Dengan kondisi itu, dikhawatirkan noken bisa punah dalam beberapa tahun ke depan bila tak ada generasi muda yang mau meneruskan profesi adat tersebut. ’’Seperti di Jawa, di Papua juga terjadi krisis budaya dan krisis identitas di kalangan anak mudanya,’’ tutur Titus.

Di mata anak muda Papua, noken dianggap kerajinan kuno dan kampungan. Padahal, itulah salah satu kekayaan budaya nenek moyang mereka. ’’Kami prihatin karena selama dalam penelitian di Jayapura hanya menemukan lima perajin noken yang sudah tua-tua,’’ kata lajang yang meninggalkan Papua sejak 1996 itu.

Situasi hampir mirip terjadi di Kabupaten Nabire. Misalnya, di Pasar Oyehe Nabire, yang dijual adalah noken imitasi dari nilon. Di Nabire, Titus hanya menemukan seorang perajin noken anggrek.
Tapi, di Kabupaten Paniai, Titus dk.k berbahagia. Sebab, mereka sukses menemukan banyak ibu perajin noken dari serat kayu. Jumlahnya sekitar 50 orang. Selain itu, ada 20 bapak yang mahir membuat noken anggrek.

’’Yang membanggakan lagi, ada sekolah yang memasukkan kerajinan membuat noken sebagai salah satu kurikulum muatan lokal,’’ ungkapnya.

Sekolah itu berada di bawah Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik (YPPK) Epouto. ’’Dari situ, harapan kami muncul bahwa noken akan bertahan. Sebab, anak-anak sekolah mulai dikenalkan
pada cara membuat noken yang benar,’’ tambah anak kedua di antara tujuh bersaudara itu.

Titus kemudian menyambangi Kabupaten Wamena. Di lokasi itu, dia menemukan sekitar 30 perempuan yang masih bisa membuat noken dengan baik. Di Kabupaten Sorong, Titus cs menemukan 25 perempuan yang punya keahlian yang sama. Sementara itu, di Kabupaten Biak dan Kabupaten Manokwari, tim hanya menemukan tiga ahli noken di masing-masing daerah tersebut.

Dari penelitiannya di seantero Papua dan Papua Barat itu, Titus bersama tim menyimpulkan bahwa keterampilan membuat noken harus dilestarikan. Karena itu, pengakuan UNESCO atas noken
\diharapkan bisa menumbuhkan semangat generasi muda untuk membuat noken.

Setelah menuntaskan penelitian, tugas Titus berikutnya adalah menyusun proposal pengajuan noken sebagai warisan budaya Papua dan Papua Barat ke UNESCO. Proposal kemudian dimasukkan pada 1 Maret 2011. Namun, badan PBB itu mengembalikannya karena ada beberapa hal yang harus direvisi.

Usaha keras yang tak kenal lelah itu akhirnya terbayar. Titus bersama tim menerima kabar bahwa usul noken sebagai warisan budaya tidak benda disetujui UNESCO. Karena itu, Titus bersama Wamendikbud Bidang Kebudayaan Wiendu Nuryanti lalu meluncur ke Paris untuk mengikuti sidang UNESCO pada 4 Desember 2012. Dalam sidang itu, seluruh peserta menyetujui pengesahan noken sebagai warisan budaya tak benda asli Indonesia.

’’Para peserta sidang terharu mendengar pemaparan proposal noken oleh panitia,’’ katanya.
’’Bahkan, ada peserta sidang dari Jepang yang berteriak supaya noken langsung disahkan tanpa harus dipaparkan panjang lebar,’’ imbuhnya.

Setelah noken mendapat pengakuan dari UNESCO, Titus berharap pemerintah lebih memperhatikan salah satu kekayaan budaya itu sebelum punah atau diklaim negara lain.

’’Salah satu kendala dalam pelestarian noken adalah pemasarannya. Warga Papua dan Papua Barat tak bisa mengembangkan pasar ke luar daerah. Akibatnya, mereka ogah-ogahan membuat kerajinan khas ini,’’ tegas lulusan pascasarjana ilmu lingkungan UI itu.
                      

Sumber : http://www.radarlampung.co.id/    Ade pekei
Share this article :

0 komentar:

SPEAK UP YOUR MIND

TELL US WHAT YOU'RE THINKING... !

 
Support : FREE WEST PAPUA | IPMAPA | OPM(Orang Papua Malang)
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. IPMAPA MALANG - All Rights Reserved
Template Design by Mr.YOGIX FWP Published by IPMAPA MALANG RAYA